Sabtu, 25 Oktober 2008

Borbor Marsada

hallo semua yang merasa dirinya termasuk dalam Punguan Borbor Marsada,

disini ada file mengenai borbor marsada. Semoga dapat bermanfaat.Sumber dapat di peroleh juga di www.manik.web.id

Jesus Bless U all


Suku Simalungun




Suku Simalungun


Suku Simalungun adalah salah satu suku asli dari Sumatera Utara, Indonesia
Simalungun dalam bahasa Simalungun memiliki kata dasar "lungun" yang memiliki makna "sunyi". Nama itu diberikan oleh orang luar karena penduduknya sangat jarang dan tempatnya sangat berjauhan antara yang satu dengan yang lain. Orang Batak Toba menyebutnya "Si Balungu" dari legenda hantu yang menimbulkan wabah penyakit di daerah tersebut, sedangkan orang Karo menyebutnya Batak Timur karena bertempat di sebelah timur mereka.

Daftar isi

1 Asal-usul
2 Terbentuknya Simalungun
3 Kehidupan masyarakat Simalungun
4 Kepercayaan
5 Marga-Marga
5.1 Harungguan Bolon
5.2 Marga-marga perbauran
5.3 Penambahan Marga
6 Perkerabatan Simalungun
7 Pakaian adat
8. Catatan


Asal-usul

Terdapat berbagai sumber mengenai asal usul Suku Simalungun, tetapi sebagian besar menceritakan bahwa nenek moyang Suku Simalungun berasal dari luar Indonesia.
Kedatangan ini terbagi dalam 2 gelombang

1. Gelombang pertama (Proto Simalungun), diperkirakan datang dari Nagore (India Selatan) dan pegunungan Assam (India Timur) di sekitar abad ke-5, menyusuri Myanmar, ke Siam dan Malaka untuk selanjutnya menyeberang ke Sumatera Timur dan mendirikan kerajaan Nagur dari Raja dinasti Damanik.

2. Gelombang kedua (Deutero Simalungun), datang dari suku-suku di sekitar Simalungun yang bertetangga dengan suku asli Simalungun.
Pada gelombang Proto Simalungun di atas, Tuan Taralamsyah Saragih menceritakan bahwa rombongan yang terdiri dari keturunan dari 4 Raja-raja besar dari Siam dan India ini bergerak dari Sumatera Timur ke daerah Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, hingga ke Bandar Kalifah sampai Batubara.
Kemudian mereka didesak oleh suku setempat hingga bergerak ke daerah pinggiran danau Toba dan Samosir.
[Terbentuknya Simalungun
Pada kerajaan Nagur di atas, terdapat beberapa panglima (Raja Goraha) yaitu masing-masing bermarga:
• Saragih
• Sinaga
• Purba

Kemudian mereka dijadikan menantu oleh Raja Nagur dan selanjutnya mendirikan kerajaan-kerajaan:
• Silou (Purba Tambak)
• Tanoh Djawa (Sinaga)
• Raya (Saragih)


Selama abad ke-13 hingga ke-15, kerajaan-kerajaan kecil ini mendapatkan serangan dari kerajaan-kerajaan lain seperti Singhasari, Majapahit, Rajendra Chola (India) dan dari Sultan Aceh, Sultan-sultan Melayu hingga Belanda.
Selama periode ini, tersebutlah cerita "Hattu ni Sapar" yang melukiskan kengerian keadaan saat itu di mana kekacauan diikuti oleh merajalelanya penyakit kolera hingga mereka menyeberangi "Laut Tawar" (sebutan untuk Danau Toba) untuk mengungsi ke pulau yang dinamakan Samosir yang merupakan kependekan dari Sahali Misir (bahasa Simalungun, artinya sekali pergi).

Saat pengungsi ini kembali ke tanah asalnya (huta hasusuran), mereka menemukan daerah Nagur yang sepi, sehingga dinamakanlah daerah kekuasaan kerajaan Nagur itu sebagai Sima-sima ni Lungun, bahasa Simalungun untuk daerah yang sepi, dan lama kelamaan menjadi Simalungun. (M.D Purba, 1997)
[Kehidupan masyarakat Simalungun

Sistem mata pencaharian orang Simalungun yaitu bercocok tanam dengan jagung, karena padi adalah makanan pokok sehari-hari dan jagung adalah makanan tambahan jika hasil padi tidak mencukupi. Jual-beli diadakan dengan barter, bahasa yang dipakai adalah bahasa dialek. "Marga" memegang peranan penting dalam soal adat Simalungun. Jika dibandingkan dengan keadaan Simalungun dengan suku Batak yang lainnya sudah jauh berbeda. Di Tapanuli sudah berdiri sekolah-sekolah, rumah sakit, dan sekolah-sekolah keterampilan lainnya sehingga sistem kehidupan Tapanuli lebih maju.
[Kepercayaan


Patung Sang Budha menunggang Gajah koleksi Museum Simalungun, yang menunjukkan pengaruh ajaran Budha pada Masyarakat Simalungun.
Sebelum masuknya Misionaris Agama Kristen dari RMG pada tahun 1903, penduduk Simalungun bagian timur pada umumnya sudah banyak menganut agama Islam sedangkan Simalungun Barat menganut animisme. Ajaran Hindu dan Budha juga pernah mempengaruhi kehidupan di Simalungun, hal ini terbukti dengan peninggalan berbagai patung dan arca yang ditemukan di beberapa tempat di Simalungun yang menggambarkan makna Trimurti (Hindu) dan Sang Budha yang menunggangi Gajah (Budha).
Bila diselidiki lebih dalam suku Simalungun memiliki berbagai kepercayaan yang berhubungan dengan pemakaian mantera-mantera dari "Datu" (dukun) disertai persembahan kepada roh-roh nenek moyang yang selalu didahului panggilan kepada Tiga Dewa, yaitu Dewa di atas (dilambangkan dengan warna Putih), Dewa di tengah (dilambangkan dengan warna Merah), dan Dewa di bawah (dilambangkan dengan warna Hitam). 3 warna yang mewakili Dewa-Dewa tersebut (Putih, Merah dan Hitam) mendominasi berbagai ornamen suku Simalungun dari pakaian sampai hiasan rumahnya.
Sistem pemerintahan di Simalungun dipimpin oleh seorang Raja, sebelum pemberitaan Injil masuk Tuan Rajalah yang sangat berpengaruh. Orang Simalungun menganggap bahwa anak Raja itulah Tuhan dan Raja itu sendiri adalah Allah yang kelihatan.
Marga-Marga
Harungguan Bolon
Terdapat empat marga asli suku Simalungun yang populer dengan akronim SISADAPUR yaitu:
• Sinaga
• Saragih
• Damanik
• Purba


Keempat marga ini merupakan hasil dari “Harungguan Bolon” (permusyawaratan besar) antara 4 raja besar untuk tidak saling menyerang dan tidak saling bermusuhan (marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munssuh).

Keempat raja itu adalah
1. Raja Nagur bermarga Damanik
Damanik berarti Simada Manik (pemilik manik), dalam bahasa Simalungun, Manik berarti Tonduy, Sumangat, Tunggung, Halanigan (bersemangat, berkharisma, agung/terhormat, paling cerdas).
Raja ini berasal dari kaum bangsawan India Selatan dari Kerajaan Nagore. Pada abad ke-12, keturunan raja Nagur ini mendapat serangan dari Raja Rajendra Chola dari India, yang mengakibatkan terusirnya mereka dari Pamatang Nagur di daerah Pulau Pandan hingga terbagi menjadi 3 bagian sesuai dengan jumlah puteranya:

• Marah Silau (yang menurunkan Raja Manik Hasian, Raja Jumorlang, Raja Sipolha, Raja Siantar, Tuan Raja Sidamanik dan Tuan Raja Bandar)
• Soro Tilu (yang menurunkan marga raja Nagur di sekitar gunung Simbolon: Damanik Nagur, Bayu, Hajangan, Rih, Malayu, Rappogos, Usang, Rih, Simaringga, Sarasan, Sola)
• Timo Raya (yang menurunkan raja Bornou, Raja Ula dan keturunannya Damanik Tomok)
Selain itu datang marga keturunan Silau Raja, Ambarita Raja, Gurning Raja, Malau Raja, Limbong, Manik Raja yang berasal dari Pulau Samosir dan mengaku Damanik di Simalungun.

2. Raja Banua Sobou bermarga Saragih
Saragih dalam bahasa Simalungun berarti Simada Ragih, yang mana Ragih berarti atur, susun, tata, sehingga simada ragih berarti Pemilik aturan atau pengatur, penyusun atau pemegang undang-undang.

Keturunannya adalah:
• Saragih Garingging yang pernah merantau ke Ajinembah dan kembali ke Raya.
• Saragih Sumbayak keturunan Tuan Raya Tongah, Pamajuhi, dan Bona ni Gonrang.

Saragih Garingging kemudian pecah menjadi 2, yaitu:

o Dasalak, menjadi raja di Padang Badagei
o Dajawak, merantau ke Rakutbesi dan Tanah Karo dan menjadi marga Ginting Jawak

Walaupun jelas terlihat bahwa hanya ada 2 keturunan Raja Banua Sobou, pada zaman Tuan Rondahaim terdapat beberapa marga yang mengaku dirinya sebagai bagian dari Saragih (berafiliasi), yaitu: Turnip, Sidauruk, Simarmata, Sitanggang, Munthe, Sijabat, Sidabalok, Sidabukke, Simanihuruk.
Ada satu lagi marga yang mengaku sebagai bagian dari Saragih yaitu Pardalan Tapian, marga ini berasal dari daerah Samosir.




Rumah Bolon Raja Purba di Pematang Purba, Simalungun.

3. Raja Banua Purba bermarga Purba
Purba menurut bahasa berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Purwa yang berarti timur, gelagat masa datang, pegatur, pemegang Undang-undang, tenungan pengetahuan, cendekiawan/sarjana.

Keturunannya adalah: Tambak, Sigumonrong, Tua, Sidasuha (Sidadolog, Sidagambir). Kemudian ada lagi Purba Siborom Tanjung, Pakpak, Girsang, Tondang, Sihala, Raya.
Pada abad ke-18 ada beberapa marga Simamora dari Bakkara melalui Samosir untuk kemudian menetap di Haranggaol dan mengaku dirinya Purba. Purba keturunan Simamora ini kemudian menjadi Purba Manorsa dan tinggal di Tangga Batu dan Purbasaribu.

4. Raja Saniang Naga bermarga Sinaga atau Tanduk Banua (terletak di perbatasan Simalungun dengan tanah Karo)
Sinaga berarti Simada Naga, dimana Naga dalam mitologi dewa dikenal sebagai penebab Gempa dan Tanah Longsor.
Keturunannya adalah marga Sinaga di Kerajaan Tanah Jawa, Batangiou di Asahan.
Saat kerajaan Majapahit melakukan ekspansi di Sumatera pada abad ke-14, pasukan dari Jambi yang dipimpin Panglima Bungkuk melarikan diri ke kerajaan Batangiou dan mengaku bahwa dirinya adalah Sinaga.
Menurut Taralamsyah Saragih, nenek moyang mereka ini kemudian menjadi raja Tanoh Djawa dengan marga Sinaga Dadihoyong setelah ia mengalahkan Tuan Raya Si Tonggang marga Sinaga dari kerajaan Batangiou dalam suatu ritual adu sumpah (Sibijaon).Tideman, 1922
Beberapa Sumber mengatakan bahwa Sinaga keturunan raja Tanoh Djawa berasal dari India, salah satunya adalah menrurut Tuan Gindo Sinaga keturunan dari Tuan Djorlang Hatara.
Beberapa keluarga besar Partongah Raja Tanoh Djawa menghubungkannya dengan daerah Nagaland (Tanah Naga) di India Timur yang berbatasan dengan Myanmar yang memang memiliki banyak persamaan dengan adat kebiasaan, postur wajah dan anatomi tubuh serta bahasa dengan suku Simalungun dan Batak lainnya.
Marga-marga perbauran
Perbauran suku asli Simalungun dengan suku-suku di sekitarnya di Pulau Samosir, Silalahi, Karo, dan Pakpak menimbulkan marga-marga baru.
Marga-marga tersebut yaitu:
• Saragih: Sidauruk, Sidabalok, Siadari, Simarmata, Simanihuruk, Sidabutar, Munthe dan Sijabat
• Purba: Manorsa, Simamora, Sigulang Batu, Parhorbo, Sitorus dan Pantomhobon
• Damanik: Malau, Limbong, Sagala, Gurning dan Manikraja
• Sinaga: Sipayung, Sihaloho, Sinurat dan Sitopu

Selain itu ada juga marga-marga lain yang bukan marga Asli Simalungun tetapi kadang merasakan dirinya sebagai bagian dari suku Simalungun, seperti Lingga, Manurung, Butar-butar dan Sirait.
Zaman raja-raja Simalungun, orang yang tidak jelas garis keturunannya dari raja-raja disebut “jolma tuhe-tuhe” atau “silawar” (pendatang). Fenomena sosial ini diakibatkan adanya hukum marga yang keras di Simalungun menyatukan dirinya dengan marga raja-raja agar mendapat hak hidup di Simalungun.
Demikianlah sehingga makin bertambah banyak marga di Simalungun. Tetapi meski demikian sejak dahulu hanya ada empat marga pokok di Simalungun yakni Sisadapur : Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba.

Setelah raja-raja dikuasai Belanda sejak ditandatanganinya Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) tahun 1907 dan dihapuskannya kerajaan/feodalisme dalam aksi Revolusi Sosial tanggal 3 Maret 1946 sampai April 1947, peraturan tentang marga itu hapus di Simalungun. Masing-masing marga kembali lagi ke marga aslinya dan ke sukunya semula.

Penambahan Marga
Pada tahun 1930, Pdt. J. Wismar Saragih pernah menuliskan surat permohonan pada kumpulan Raja-Raja Simalungun yang berkumpul di Pematang Siantar yang meminta agar Raja-Raja tersebut menetapkan marga-marga baru sebagai tambahan kepada marga resmi Simalungun dengan maksud agar semakin banyak marga Simalungun seperti pada suku lain. Walaupun ide tersebut diterima oleh Raja-Raja tersebut namun permohonan J. Wismar Saragih belum disetujui karena belum tepat waktunya.
Karena alasan tersebut di atas, sebagian orang berpandangan bahwa masih ada kemungkinan bertambahnya Marga-marga di Simalungun. Hal ini senada dengan apa yang pernah dituliskan mengenai asal-usul beberapa Marga. Semisal Marga Saragih Garingging, yang disebut beberapa sumber berasal dari keturunan Pinangsori, dari Ajinembah (sebuah daerah di Kabupaten Karo) dan bermigrasi ke Raya sehingga bertemu dengan Raja Nagur dan dijadikan marga Saragih Garingging. Begitupun marga Purba Tambak, disebutkan berasal dari penduduk daerah Pagaruyung yang bermigrasi ke daerah Natal, kemudian ke Singkel, hingga tiba di daerah Tambak, Simalungun. Keturunannya kemudian menikah dengan keturunan Raja Nagur dan mereka dijadikan sebagai bagian dari Purba, yaitu Purba Tambak.Marga Damanik juga disebut sebagai pendatang yang menikah dengan keturunan Tuan Silampuyang yang bermarga Saragih dan kemudian diberi marga.

Perkerabatan Simalungun

Orang Simalungun tidak terlalu mementingkan soal silsilah karena penentu partuturan (perkerabatan) di Simalungun adalah hasusuran (tempat asal nenek moyang) dan tibalni parhundul (kedudukan/peran) dalam horja-horja adat (acara-acara adat). Hal ini bisa dilihat saat orang Simalungun bertemu, bukan langsung bertanya “aha marga ni ham?” (apa marga anda) tetapi “hunja do hasusuran ni ham (dari mana asal-usul anda)?"
Hal ini dipertegas oleh pepatah Simalungun “Sin Raya, sini Purba, sin Dolog, sini Panei. Na ija pe lang na mubah, asal ma marholong ni atei” (dari Raya, Purba, Dolog, Panei. Yang manapun tak berarti, asal penuh kasih). Sebagian sumber menuliskan bahwa hal tersebut disebabkan karena seluruh marga raja-raja Simalungun itu diikat oleh persekutuan adat yang erat oleh karena konsep perkawinan antara raja dengan “puang bolon” (permaisuri) yang adalah puteri raja tetangganya. Seperti raja Tanoh Djawa dengan puang bolon dari Kerajaan Siantar (Damanik), raja Siantar yang puang bolonnya dari Partuanan Silappuyang, Raja Panei dari Putri Raja Siantar, Raja Silau dari Putri Raja Raya, Raja Purba dari Putri Raja Siantar dan Silimakuta dari Putri Raja Raya atau Tongging.

Adapun Perkerabatan dalam masyarakat Simalungun disebut sebagai partuturan. Partuturan ini menetukan dekat atau jauhnya hubungan kekeluargaan (pardihadihaon), dan dibagi kedalam beberapa kategori sebagai berikut:
• Tutur Manorus / Langsung
Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri.
• Tutur Holmouan / Kelompok
Melalui tutur Holmouan ini bisa terlihat bagaimana berjalannya adat Simalungun
• Tutur Natipak / Kehormatan
Tutur Natipak digunakan sebagai pengganti nama dari orang yang diajak berbicara sebagai tanda hormat.

Pakaian Adat




Kain Adat Simalungun disebut Hiou. Penutup kepala lelaki disebut Gotong, penutup kepala wanita disebut Bulang, sedangkan yang kain yang disandang ataupun kain samping disebut Suri-suri.
Sama seperti suku-suku lain di sekitarnya, pakaian adat suku Simalungun tidak terlepas dari penggunaan kain Ulos (disebut Uis di suku Karo). Kekhasan pada suku Simalungun adalah pada kain khas serupa Ulos yang disebut Hiou dengan berbagai ornamennya. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat, dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak, memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar, Muangthai dan Laos, khususnya pada ikat kepala, kain dan ulosnya.
Secara legenda ulos dianggap sebagai salah satu dari 3 sumber kehangatan bagi manusia (selain Api dan Matahari), namun dipandang sebagai sumber kehangatan yang paling nyaman karena bisa digunakan kapan saja (tidak seperti matahari, dan tidak dapat membakar (seperti api). Seperti suku lain di rumpun Batak, Simalungun memiliki kebiasaan "mambere hiou" (memberikan ulos) yang salah satunya melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima ulos.
Ulos dapat dikenakan dalam berbagai bentuk, sebagai kain penutup kepala, penutup badan bagian bawah, penutup badan bagian atas, penutup punggung dan lain-lain. Ulos dalam berbagai bentuk dan corak/motif memiliki nama dan jenis yang berbeda-beda, misalnya ulos penutup kepala wanita disebut suri-suri, ulos penutup badan bagian bawah bagi wanita disebut ragipane, atau yang digunakan sebagai pakaian sehari-hari yang disebut jabit. Ulos dalam pakaian penganti Simalungun juga melambangkan kekerabatan Simalungun yang disebut tolu sahundulan, yang terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (abit).
Menurut Muhar Omtatok, Budayawan Simalungun, awalnya Gotong (Penutup Kepala Pria Simalungun) berbentuk destar dari bahan kain gelap ( Berwarna putih untuk upacara kemalangan, disebut Gotong Porsa), namun kemudian Tuan Bandaralam Purba Tambak dari Dolog Silou juga menggemari trend penutup kepala ala melayu berbentuk tengkuluk dari bahan batik, dari kegemaran pemegang Pustaha Bandar Hanopan inilah, kemudian Orang Simalungun dewasa ini suka memakai Gotong berbentuk Tengkuluk Batik.

Catatan
1. Herman Purba Tambak, SIB 3 September 2006, hlm. 9
2. Pdt Juandaha Raya P Dasuha, STh, SIB, "Perekat Identitas Sosial Budaya Simalungun" 22 Oktober 2006
3. The Simalungun Protestant Church in Indonesia, a brief history, Kolportase GKPS, Pematang Siantar, 1983, hlm. 6
4. Pdt Juandaha Raya P Dasuha, STh, SIB(Perekat Identitas Sosial Budaya Simalungun) 22 Oktober 2006
5. Taralamsyah Garingging, Garingging
6. TBA Purba Tambak, Sejarah Simalungun
7. Jaumbang Garingging, Palar Girsang, Adat Simalungun, Medan, 1975
8. Biranul Anas / Jonny Purba, Busana Tradisional Batak, Taman Mini Indonesia Indah


Dikutip dari : Wikipedia Indonesia

Jumat, 08 Agustus 2008

Männer lieben langes Haar "Lelaki Lebih Suka Rambut Panjang"

Männer finden lange Haare bei Frauen meist viel attracktiver als einen Kurzhaarschinitt. Das ergab eine Umfrage der Frauenzeitschrift Laura.
Demnach wünschen sich 65 prozent der Männer eine lange Mähne beim weiblichen Geschlecht. Auch Locken sind bei den Herren sehr beliebt.
Männerwünsche hin oder her-viele Frauen fühlen sich mit längeren Haaren einfach wohler, weil es zu ihrem Typ passt und mehr Möglichkeiten für das Styling bietet. Mit feinem Haar ist es aber oft nicht leicht,sich den Traum von der wallenden Mähne zu erfühlen.
Mitunter erinnert das Ergebnis eher an eine dünne,ausgefranste '' Mäusematte''. Manche Haare wollen auch nicht so recht wachsen und brechen ab Schulternlänge regelmassig ab.
Wer unter derartigen Problemen leidet, kann sich heutszutage mit Extensions behelfen. Haarverdichtung und -verlängerung zaubern zusätzliches Volumen und mehr Länge ins Haar. Dabei kommt es besonders auf die Qualität der Extensions und die professionelle Anbringung an. Nur hochwertiges, handselektiertes Echthaar garantiert erstklassige Ergebnisse und einen natürlichen Look.




Para lelaki pada umunnya menganggap bahwa wanita yang memiliki rambut panjang lebih attraktiv dibandingkan dengan wanita yang berambut pendek.Hasil peninjauan ini di bahasa didalam sebuah rubrik wanita "Laura". Dan terbukti bahwa 65%, lelaki suka pasangannya berambut panjang. Bukan hanya itu saja, mereka juga sangat menyukai yang berambut keriting dan berombak.
Kebanyakan pria mendapatkan perasaan yang tenang dengan kekasihnya, karena itu sangat pas dengan mereka dan dapat menstyling (menggaya) rambut mereka dengan sesuka hati. Dengan rambut yang sedikit atau pendek, tidak memungkinkan bagi mereka dan itu tidaklah gampang.Bukan hanya itu saja, terkadang ada juga rambut yang tidak sanggup panjang atau menggugurkan rambutnya, dan itu sangatlah tidak memuaskan si pemilik sehingga pemilik rambut memotong rambutnya sebatas bahu.
Namun jaman sekarang ini sudah berbeda, mereka bisa dibantu oleh para disigner rambut. Mempertebal rambut, memeperpanjang, mendesign bahkan banyak hal lainnya yang menungkinkan. Ini harus didukung dengan Qualitas produknya dan dengan daya profesionalismenya. Dengan demikian mereka akan memiliki rambut yang mempesona dan mengkilau.

Bagaimana dengan saudara? Apakah anda menyenangi kekasih anda berambut panjang, indah mempesona tanpa pergi ke salon? Atau berambut panjang tetapi cangkokan (huahahaha,,,,wkwkw) Atau anda sendiri menyenangi rambut yang sudah anda punya sekarang?

Saran, komentar dan kritik di harapakan.

Thanks for all

Kamis, 26 Juni 2008

Demonstrasi di Augsburg


Kemarin tepatnya hari selasa (24-06-2008), diadakan demonstrasi oleh mahasiswa-mahasiswa Universitas Augsburg. Para mahasiswa mendemonstrasikan dan menentang dengan adanya Studiengebühren (Uang kuliah), yang mana biaya nya €500, ditambah dengan biaya Immatrikulation sebanyak €150 secara keseluruhan berjumlah €650. Ini sangat tidak menguntungkan bagi mahasiswa. Ditambah lagi Studiengebühren itu hanya berlaku di Bayern secara keseluruhan tetapi bagi daerah Jerman lainnya tidak dibebankan Studiengebühren. Ini juga sangat membuat kecemburuan sosial bagi mahasiswa di Jerman.

Dengan keadaan dan situasi politik yang tidak menguntungkan tersebut, memungkin banyak nya keuntungan bagi beberapa daerah. Dalam dunia politik di Jerman hanya memungkinkan dan memberlakukan politik daerahnya masing-masing. Setiap daerah bagian Jerman memiliki kekuatan politik tersendiri. Contohnya dimana saya bertempat, Augsburg (Bayern). Di Bayern ini politik yang berkuasa adalah CSU,yang mana CSU memiliki kekuatan didaerah ini dalam memajukan daerah yang dipimpinnya. Sedangkan daerah lain, contohnya Leipzig atau daerah bekas Hitler, dikuasai oleh Linken . Dan di Berlin diduduki oleh partei SPD,dimana Angela Merkel menjadi Presiden dari Jerman itu sendiri. Dengan adanya situasi politik yang demikian, maka aspirasi dari masyarakat di adukan kepada tiap-tiap pemerintah daerahnya masing-masing.

Demikian halnya di Augsburg ini. Kemarin mahasiswa mengajukan ujuk rasa dalam penentangan diadakannya Studiengebühren (saya juga ikut berpartisipasi,hehehe..). Mahasiswa memintah kepada pemerintah daerah untuk menindak lanjutin masalah tersebut. Terlebih lagi Die Lebenshaltungskosten (biaya hidup) di Jerman ini sangat tinggi. Die Lebenshaltungskosten itu termasuk juga asuransi jiwa, biaya Apartemen, listrik, air, pajak daerah, pajak kerja, pajak sampah, dll). Yang mana untuk semua itu mahasiswa harus bekerja dalam memenuhi biaya hidupnya. Dengan keadaan tersebut memungkinkan mahasiswa tidak konsentrasi dalam mengikutin pelajaran.

Keadaan dan situasi demikian, diharapkan pemerintah untuk segera menindak lanjutin dan memungkinkan untuk menghapus Studiengebühren tersebut.

Yang membuat saya tertarik lagi, pihak kepolisin begitu banyak dalam Demonstrasi itu. Saya kira mereka (polisi2) akan membubarkan demonstrasi dan memporakporandakan Demons tersebut, namun sungguh membuat aku kagum. Mereka hanya datang untuk menstabilkan keadaan, mereka menjaga ketenang dan tidak mengganggu demonstrasi, mereka juga yang mengatur lalulintas dimana mahasiswa berarak-arak di sekitar kota dari Rathhaus - Stadwerke Augsburg - Mozart Haus dan berakhir di Theater Augsburg. Polisi menutup lalulintas dan memperlebar jalan bagi pendemonstrasi.

Sungguh berbeda dengan keadaan di Indonesia,yang mana polisi biasanya membubarkan pendemonstrasi, menangkap mahasiswa scr diam2 dan banyak hal lainnya. Saya tidak tahu siapa yang salah, apakah mahasiswanya atau polisinya. Namun saya sungguh kagum dengan keadaan dan situasi politik di Jerman ini.

Senin, 23 Juni 2008

KEKUATAN UNTUK BERTAHAN


Tanpa memandang situasi Anda saat ini , ketahuilah bahwa Tuhan menyediakan bakat yang melimpah bagi kita semua. Ia sedang bekerja dalam hidup anda saat ini dengan penuh kuasa, jadi jangan berhenti berdoa. Saat Anda merasa hampa, anda akan menemukan kepenuhanNya. Saat anda sedih, anda akan menemukan sukacitaNya. Dan saat Anda berada di tengah badai yang mengamuk, anda akan menemukan perlindungan dan pemeliharaanNya.


Saat anda kecewa mintalah, mintalah agar Tuhan membantu anda untuk memahami kebenaranNya yang berkenan dengan apa yang sedang anda alami. Tetapi rendah hati, tunduk, penuh iman dan harapan dan anda akan menyaksikan kebaikan Tuhan di tengah semua yang sedang terjadi. Ingat bahwa betapapun gelap situasi anda, DIA adalah terang dalam hidup Anda dan terangNya itu tidak dapat dipadamkan oleh apapun.


Jangan abaikan DIA di tengah-tenagh penderitaan Anda, mendekatlah kepadaNYa dan izinkan DIA memulihkan dan memurnikan Anda serta membuat Anda semakin mengenal DIA.