Kamis, 26 Juni 2008

Demonstrasi di Augsburg


Kemarin tepatnya hari selasa (24-06-2008), diadakan demonstrasi oleh mahasiswa-mahasiswa Universitas Augsburg. Para mahasiswa mendemonstrasikan dan menentang dengan adanya Studiengebühren (Uang kuliah), yang mana biaya nya €500, ditambah dengan biaya Immatrikulation sebanyak €150 secara keseluruhan berjumlah €650. Ini sangat tidak menguntungkan bagi mahasiswa. Ditambah lagi Studiengebühren itu hanya berlaku di Bayern secara keseluruhan tetapi bagi daerah Jerman lainnya tidak dibebankan Studiengebühren. Ini juga sangat membuat kecemburuan sosial bagi mahasiswa di Jerman.

Dengan keadaan dan situasi politik yang tidak menguntungkan tersebut, memungkin banyak nya keuntungan bagi beberapa daerah. Dalam dunia politik di Jerman hanya memungkinkan dan memberlakukan politik daerahnya masing-masing. Setiap daerah bagian Jerman memiliki kekuatan politik tersendiri. Contohnya dimana saya bertempat, Augsburg (Bayern). Di Bayern ini politik yang berkuasa adalah CSU,yang mana CSU memiliki kekuatan didaerah ini dalam memajukan daerah yang dipimpinnya. Sedangkan daerah lain, contohnya Leipzig atau daerah bekas Hitler, dikuasai oleh Linken . Dan di Berlin diduduki oleh partei SPD,dimana Angela Merkel menjadi Presiden dari Jerman itu sendiri. Dengan adanya situasi politik yang demikian, maka aspirasi dari masyarakat di adukan kepada tiap-tiap pemerintah daerahnya masing-masing.

Demikian halnya di Augsburg ini. Kemarin mahasiswa mengajukan ujuk rasa dalam penentangan diadakannya Studiengebühren (saya juga ikut berpartisipasi,hehehe..). Mahasiswa memintah kepada pemerintah daerah untuk menindak lanjutin masalah tersebut. Terlebih lagi Die Lebenshaltungskosten (biaya hidup) di Jerman ini sangat tinggi. Die Lebenshaltungskosten itu termasuk juga asuransi jiwa, biaya Apartemen, listrik, air, pajak daerah, pajak kerja, pajak sampah, dll). Yang mana untuk semua itu mahasiswa harus bekerja dalam memenuhi biaya hidupnya. Dengan keadaan tersebut memungkinkan mahasiswa tidak konsentrasi dalam mengikutin pelajaran.

Keadaan dan situasi demikian, diharapkan pemerintah untuk segera menindak lanjutin dan memungkinkan untuk menghapus Studiengebühren tersebut.

Yang membuat saya tertarik lagi, pihak kepolisin begitu banyak dalam Demonstrasi itu. Saya kira mereka (polisi2) akan membubarkan demonstrasi dan memporakporandakan Demons tersebut, namun sungguh membuat aku kagum. Mereka hanya datang untuk menstabilkan keadaan, mereka menjaga ketenang dan tidak mengganggu demonstrasi, mereka juga yang mengatur lalulintas dimana mahasiswa berarak-arak di sekitar kota dari Rathhaus - Stadwerke Augsburg - Mozart Haus dan berakhir di Theater Augsburg. Polisi menutup lalulintas dan memperlebar jalan bagi pendemonstrasi.

Sungguh berbeda dengan keadaan di Indonesia,yang mana polisi biasanya membubarkan pendemonstrasi, menangkap mahasiswa scr diam2 dan banyak hal lainnya. Saya tidak tahu siapa yang salah, apakah mahasiswanya atau polisinya. Namun saya sungguh kagum dengan keadaan dan situasi politik di Jerman ini.

Tidak ada komentar: