Senin, 03 November 2008

Hatop Ma Ho Muli Boruku

Orang tua kita emang orang tua terbaik dalam hidup kita. Yang memberi kita segalanya dan bahkan menyekolahkan kita sampai ke cita-cita yang kita inginkan. Tapi untuk mewujudkan keinginan orang tua kita napa susah ya? Termasuk yang satu ini. Disaat kita suda beranjak dewas a dan sedang asiknya berkarir, kita diminta untuk menikah. Apalagi mengingat usia kita yang bertambah dan beranjak tua. Saya ndak tahu apakah temen2 mengalami yang kualamin ini ato tidak.
Saat kuliah dan karir sedang beranjak, orang tua meminta agar aku segera merrit. Saya akui ,sepanjang hidupku, saya tidak pernah menjalani yang namanya hubungan pacaran tetapi jatuh cinta saya pernah mengalaminya. Tapi sayangnya saya tidak apernah pacaran dengan orang yang saya cintai itu. Akhirnya saya hanya terfokus dengan kegiatan sekolah dan kuliah. Beranjak kuliah saya masih juga jomblo "single". Sempat juga ada teman-teman sekampus yang menyatakan perasaan sukanya pada saya. Tapi entah kenapa saya tidak menerimanya. Yang ada di otakku saat itu hanyalah menyelesaikan kuliah dan berkarir.
Hari-hari saya lalui buka hanya di sekolah dan kampus tetapi juga di gereja. Saya sangat aktif di kegiatan pemuda dan pemudi di GKPI Desa Teladan. Saya bergabung dengan para pemuda pemudi gereja. Yah tentu aja diantara mereka pernah menembak saya,tapi tetap juga saya tidak menerimanya. Saya tidak atau apa yang salah dari saya tetapi itulah keadaan yang membuat saya tidak berfikiran pacaran. Apalagi saya itu adalah anak pertama. Dalam keluarga Batak saya itu Boru Panggoaran ni Omak dohot Bapak. Dan saya ingin sekali menjadi teladan bagi adik-adikku. Dan itulah yang selalu terlintas dalam benak saya. Saya akan pacaran kalo saya sudah tamat kuliah.

Nah saat tamat dari kuliah, saya langsung kerja di Jerman. Kehidupan di luar negeri telah membuat diri saya lupa dengan usia saya. Sampai suatu saat Mamak dan Bapak menyadarkan aku kata mereka : "Inang boru unang ho lupa da, unang alani kuliah dohot karejo mi ho gabe lupa dohot masa depanmu. Ingot nunga sadia usiam. Da boruku" Itu kata mereka. Akhirnya sejak itu saya tersadarkan untuk mencari pacar ato Teman Hidup "TH".

Apalagi keinginan mereka itu kalo bisa saya itu menikah denga Halak Batak ,,,duh gimana cari orang batak di tempat Hitler ini? Orang batak yang ada di Indonesia aja belum tentu bisa pas dengan hati dan pilihan kita,apalagi didaerah sini. Gak mungkin. Kalo saya cari bule, apakah mereka mau masuk kedalam budaya dan kultur Batak? Apakah gampang menyatukan 2 kebudayaan yang berbeda?

Bagaimana dengan pengalaman saudara? Apakah sama dengan saya ini? yah kritik ,saran dan komentar sangat diharapkan.


Butima sian au. Horas ma di hita

KONSEP WIPO: SKENARIO GLOBAL UNTUK MEMECAH INDONESIA?

Ribuan artefak budaya Indonesia telah dicuri oleh pihak asing,
seperti: Batik Adidas, Sambal Balido, Tempe, Lakon Ilagaligo, Ukiran
Jepara, Kopi Toraja, Kopi Aceh, Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayang
Sayange, dan lain sebagainya. Fenomena ini tidak hanya terjadi di
Indonesia, ia juga terdapat di banyak Negara berkembang lainnya. Untuk
itu, WIPO (World Intellectual Property Organization) , lembaga
Intellectual Property internasional, mengusulkan sebuah alternatif
penyelesaian. Usulan ini dimuat dalam "Revised Draft Provisions For
The Protections Of Traditional Cultural Expressions/ Expressions Of
Folklore".

Inti dari usul tersebut adalah menyerahkan kepemilikan atas ekspresi
budaya tradisional kepada Kustodian atau komunitas. Ini dapat dilihat
pada pasal 2 dan pasal 4 pada draft tersebut. Ekspresi budaya
tradisional "X" yang dipelihara dan dikembangkan oleh komunitas "Y"
akan menjadi milik komunitas "Y". Misalnya komunitas batik dari
Surakarta yang memelihara dan mengembangkan desain parang maka motif
tersebut akan menjadi milik komunitas tersebut.

Namun dari hasil kajian yang dilakukan oleh Indonesian Archipelago
Culture Initiatives atau IACI (www.budaya- indonesia. org), konsep ini
membawa ancaman terhadap integritas Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Yang pertama adalah masalah horizontal. Ia akan memicu konflik antar
wilayah maupun antar komunitas dalam satu daerah. Orang Sunda tidak
dapat berkreasi secara bebas mengembangkan Batik Jawa. Orang Jawa
harus meminta lisensi ke orang Batak untuk dapat mengembangkan ulos.
Orang Papua tidak merasa memiliki songket dari Palembang, demikian
seterusnya. Lalu dimanakah posisi persatuan dan kesatuan Indonesia?

Selain mengikis rasa persatuan, konsep ini juga berpotensi konflik
antar wilayah. Ada banyak artefak budaya Indonesia yang terdapat di
lebih dari satu wilayah atau suku tertentu. Misalnya, ada sebuah motif
ukiran tertentu terdapat di dua wilayah atau suku yang berbeda. Lalu
komunitas yang mana berhak untuk memilikinya? Akibatnya akan terjadi
konflik antar wilayah atau antar suku. Pemekaran wilayah, yang hanya
melibatkan dimensi pembagian administrasi pemeritahan saja, terbukti
dapat menyebabkan jatuhnya korban. Apalagi jika ditambah dengan
persoalan pembagian budaya tradisi. Setiap wilayah atau suku akan
bertempur untuk mempertahankan warisan nenek moyaknya, yang merupakan
"harga diri" komunitasnya.

Konflik yang mungkin muncul tidak hanya terjadi antar komunitas. Ia
juga bisa terjadi di dalam komunitas itu sendiri. Dari sekian banyak
komunitas Angklung di Bandung misalnya, siapakah yang berhak memiliki
angklung? Siapa yang berhak memberikan izin lisensi angklung ke pihak
lain, pimpinan komunitas tersebut atau rapat anggota? Posisi pimpinan
komunitas budaya, yang pada awalnya hanya memperhatikan faktor
kebijaksanaan semata, menjadi terpolitisir (akibat adanya faktor
kekuasaan dan ekonomi di dalamnya). Konsep ini beresiko melahirkan
konflik dan perpecahan pada komunitas-komunitas budaya di Indonesia.

Yang kedua adalah masalah vertikal. Konsep yang dibuat oleh WIPO akan
mempermudah upaya eksploitasi budaya Indonesia oleh pihak asing.
Sebuah perusahaan desain kaliber internasional hanya perlu datang
membeli lisensi ke sebuah komunitas budaya lokal tertentu. Negosiasi
tersebut tentu saja tidak seimbang. Adidas mungkin hanya perlu
mengeluarkan beberapa juta rupiah untuk membeli sebuah desain batik
tertentu, lalu mengkomodifikasi sedemikian rupa dan mendapatkan
miliaran dolar dari desain tersebut.

Jika terjadi sengketa sengketa hukum, kemampuan untuk melakukan
pembelaan tentu saja tidak akan seimbang. Apakah semua komunitas
budaya di Indonesia mampu membayar pengacara untuk menuntut sebuah
perusahaan raksasa asing dalam pengadilan di luar negeri? Selain
semakin mudah untuk dieksploitasi, kemampuan kita untuk melakukan
pembelaan juga semakin melemah.

Dari ulasan di atas, kita dapat melihat bahwa konsep yang diusulkan
oleh WIPO berpotensi untuk mengancam integritas Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Ia memicu konflik antar warga Negara Indonesia.
Selain itu, ia akan mempercepat proses eksploitasi budaya Indonesia
oleh pihak asing. Untuk itu kita perlu waspada. Apakah konsep yang
dibawa oleh WIPO merupakan bagian dari skenario global untuk memecah
Indonesia?

Untuk melindungi budaya Indonesia, kita membutuhkan sebuah terobosan
baru. Hal ini dapat kita teladani dari kisah perjuangan Djuanda
Kartawidjaja di Zona Ekonomi Esklusif (ZEE). Indonesia harus berani
melawan dan membuat sebuah terobosan baru. Inspirasi inilah yang
melatarbelakangi lahirnya konsep Nusantara Cultural Heritage State
License atau disingkat NCHSL (http://budaya- indonesia. org/iaci/ NCHSL),
sebagai sebuah alternatif konsep perlindungan budaya Indonesia yang
diinisiasi oleh Indonesian Archipelago Culture Initiatives.

Kita harus waspada terhadap konsep yang diusulkan oleh pihak asing.
Bisa jadi, ia merupakan sebuah skenario global untuk menghancurkan
Indonesia. Jangan sampai pemerintah dan DPR meratifikasi konsep yang
dibawa oleh WIPO tersebut. Kita harus mencegahnya.

Namun selain itu, kita membutuhkan sebuah alternatif solusi. Indonesia
harus mampu menjadi teladan dalam upaya perlindungan hukum terhadap
ekspresi budaya tradisional. Untuk itu, saya mengajak rekan-rekan
sebangsa dan setanah air untuk bersama-sama menyempurnakan dan
memperjuangkan konsep NCHSL. Rekan-rekan sebangsa dan setanah air yang
memiliki kepedulian (baik bantuan ide, tenaga maupun donasi) dapat
menggubungi IACI di email: office@budaya- indonesia. org

Mari kita bersama-sama bersatu dan menjadi bagian dari upaya
pelestarian budaya Indonesia.

Sabtu, 01 November 2008

Makkuling Do Mudar I

Kata Makkuling Do Mudar I yang artinya berbicaranya darah itu. Apakah saudara pernah merasakan yang pernah saya alami ini. Semenjak saya di Jerman ini, perasaan dan keterikatan bathin saya dengan keluarga sangat tajam. Biasanya saya jarang sekali merasakannya. Tapi sejak disini, saya sangat peka.

Dua hari yang lalu saya tidak bisa tidur,pikiran saya selalu ke keluarga saya. Tapi hanya berharap dan berdoa agar seluruh keluarga saya selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindunganNya. Tapi tetap saja saya tidak bisa tidur. Tanpa tanya dan menimbang lagi, saya langsung nelpon keluarga di Medan. Awalnya mamak bilang kalo semua sehat2 aja, saya selalu menanyakan keadaan mereka karena saya merasakan kalau ada sesuatu yang terjadi dan akhirnya mereka jujur dan mengatakan kalau mereka dua hari yang lalu sakit. Dan ditambah lagi masalah keluarga.

Setelah kejadian itu, kemarin saya juga merasakannya. Perasaan saya tidak tenang dan bukan hanya itu , saya tetap memikirkan keadaan mamak dan bapak. Nah, esoknya saya langsung nelpon ke Medan. Yang mengangakat adalah ito ku Vram Honter. Aku nanya bagaimana keadaan mamak dan bapak. Dia bilang kalau mamak sehat-sehat aja dan saat itu mamak lagi tidur. yah aku seneng aja denger kalo maak sehat. Tapi ada yang gak beres, biasanya kalo aku nelpon, mamak dan bapak pasti langsung heppot mau ngomong ama aku. Adekku bilang kalo bapak lagi makan. Yah aku berpikir positip aja. Aku merasa janggal aja.Ntah napa aku pengen ngomong ama adekku si Tiur. Trus aku bilang ama dia, kalo aku sebenarnya mau nelpon karena aku mau ngomong ama mamak aja. Mendengar itu adikku langsung bilang begini; kak, ya uda, kakak telpon aja mamak dan bapak ke Handy.Kakak akan tau sendiri.
Emangnya mami lagi di mana dek? Bukannya mamak lagi tidur? (tanyaku). Kak, lakukan apa yg kubilang, telpon aja mamk dan bapak ke Hp mereka. Nah, tanpa pikir panjang, saya langsung nelpon mamak dan bapak. Aku langsung terkejut, senang dan bercampur aduk. Handynya yang mengangkat adalah mamak. "Mak, gimana kabar mamak? Bukannya mamak tadi tidur, soalnya kata honter mamak tidur. (itu kataku). Mamak langsung tertawa; "Inang, mamak sekarang di rumah sakit.Tapi mamak uda sehat kok, besok bisa pulang ke rumah. Tentu aja aku terkejut dengar penuturan mamak. Mak , kok adek-adek membohongi aku?, kenapa mak?(tanyaku )
Itu mamak yang suruh; "Jangan kasih tau kak Mardiana dan kak Ida kalo mamak di rumah sakit. Mamak gak mau jadi bahan pikiran kalian. Itu penuturan mamak

Langsung aja aku bilang begini; "Omak, dang boi di tabunihon hamu sian au.Songon dia pe Makkuling do MudarI. Jadi unang marbuni-buni hanima sian au da.Songon dia pe huboto do annon" (artinya Mamakku, bagimanapun gak bisa kalian sembunyikan dari aku. Bagaimanapun berbicaranya darah kita itu. Jadi jangan pernah kalian sembunyikan sesuatu dari aku. Bagaimanapun juga psti aku tau nantinya.)

Yah Puji Tuhan Yesus, mamakku tersayang sudah sembuh dan sehat.


Jadi kepada para pembaca Blogku ini, kalau anda pernah merasakan seperti yang saya alami ini, jangan pernah menunda untuk menanyakan keadaan keluarga kita. Lakukan sekarang dan jangan sempat ada kata penyesalan di lain hari. Bagaimanapun juga Makkuling Do Mudar I.


Butima. Horas ma di hita sasude.

Sabtu, 25 Oktober 2008

Borbor Marsada

hallo semua yang merasa dirinya termasuk dalam Punguan Borbor Marsada,

disini ada file mengenai borbor marsada. Semoga dapat bermanfaat.Sumber dapat di peroleh juga di www.manik.web.id

Jesus Bless U all


Suku Simalungun




Suku Simalungun


Suku Simalungun adalah salah satu suku asli dari Sumatera Utara, Indonesia
Simalungun dalam bahasa Simalungun memiliki kata dasar "lungun" yang memiliki makna "sunyi". Nama itu diberikan oleh orang luar karena penduduknya sangat jarang dan tempatnya sangat berjauhan antara yang satu dengan yang lain. Orang Batak Toba menyebutnya "Si Balungu" dari legenda hantu yang menimbulkan wabah penyakit di daerah tersebut, sedangkan orang Karo menyebutnya Batak Timur karena bertempat di sebelah timur mereka.

Daftar isi

1 Asal-usul
2 Terbentuknya Simalungun
3 Kehidupan masyarakat Simalungun
4 Kepercayaan
5 Marga-Marga
5.1 Harungguan Bolon
5.2 Marga-marga perbauran
5.3 Penambahan Marga
6 Perkerabatan Simalungun
7 Pakaian adat
8. Catatan


Asal-usul

Terdapat berbagai sumber mengenai asal usul Suku Simalungun, tetapi sebagian besar menceritakan bahwa nenek moyang Suku Simalungun berasal dari luar Indonesia.
Kedatangan ini terbagi dalam 2 gelombang

1. Gelombang pertama (Proto Simalungun), diperkirakan datang dari Nagore (India Selatan) dan pegunungan Assam (India Timur) di sekitar abad ke-5, menyusuri Myanmar, ke Siam dan Malaka untuk selanjutnya menyeberang ke Sumatera Timur dan mendirikan kerajaan Nagur dari Raja dinasti Damanik.

2. Gelombang kedua (Deutero Simalungun), datang dari suku-suku di sekitar Simalungun yang bertetangga dengan suku asli Simalungun.
Pada gelombang Proto Simalungun di atas, Tuan Taralamsyah Saragih menceritakan bahwa rombongan yang terdiri dari keturunan dari 4 Raja-raja besar dari Siam dan India ini bergerak dari Sumatera Timur ke daerah Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, hingga ke Bandar Kalifah sampai Batubara.
Kemudian mereka didesak oleh suku setempat hingga bergerak ke daerah pinggiran danau Toba dan Samosir.
[Terbentuknya Simalungun
Pada kerajaan Nagur di atas, terdapat beberapa panglima (Raja Goraha) yaitu masing-masing bermarga:
• Saragih
• Sinaga
• Purba

Kemudian mereka dijadikan menantu oleh Raja Nagur dan selanjutnya mendirikan kerajaan-kerajaan:
• Silou (Purba Tambak)
• Tanoh Djawa (Sinaga)
• Raya (Saragih)


Selama abad ke-13 hingga ke-15, kerajaan-kerajaan kecil ini mendapatkan serangan dari kerajaan-kerajaan lain seperti Singhasari, Majapahit, Rajendra Chola (India) dan dari Sultan Aceh, Sultan-sultan Melayu hingga Belanda.
Selama periode ini, tersebutlah cerita "Hattu ni Sapar" yang melukiskan kengerian keadaan saat itu di mana kekacauan diikuti oleh merajalelanya penyakit kolera hingga mereka menyeberangi "Laut Tawar" (sebutan untuk Danau Toba) untuk mengungsi ke pulau yang dinamakan Samosir yang merupakan kependekan dari Sahali Misir (bahasa Simalungun, artinya sekali pergi).

Saat pengungsi ini kembali ke tanah asalnya (huta hasusuran), mereka menemukan daerah Nagur yang sepi, sehingga dinamakanlah daerah kekuasaan kerajaan Nagur itu sebagai Sima-sima ni Lungun, bahasa Simalungun untuk daerah yang sepi, dan lama kelamaan menjadi Simalungun. (M.D Purba, 1997)
[Kehidupan masyarakat Simalungun

Sistem mata pencaharian orang Simalungun yaitu bercocok tanam dengan jagung, karena padi adalah makanan pokok sehari-hari dan jagung adalah makanan tambahan jika hasil padi tidak mencukupi. Jual-beli diadakan dengan barter, bahasa yang dipakai adalah bahasa dialek. "Marga" memegang peranan penting dalam soal adat Simalungun. Jika dibandingkan dengan keadaan Simalungun dengan suku Batak yang lainnya sudah jauh berbeda. Di Tapanuli sudah berdiri sekolah-sekolah, rumah sakit, dan sekolah-sekolah keterampilan lainnya sehingga sistem kehidupan Tapanuli lebih maju.
[Kepercayaan


Patung Sang Budha menunggang Gajah koleksi Museum Simalungun, yang menunjukkan pengaruh ajaran Budha pada Masyarakat Simalungun.
Sebelum masuknya Misionaris Agama Kristen dari RMG pada tahun 1903, penduduk Simalungun bagian timur pada umumnya sudah banyak menganut agama Islam sedangkan Simalungun Barat menganut animisme. Ajaran Hindu dan Budha juga pernah mempengaruhi kehidupan di Simalungun, hal ini terbukti dengan peninggalan berbagai patung dan arca yang ditemukan di beberapa tempat di Simalungun yang menggambarkan makna Trimurti (Hindu) dan Sang Budha yang menunggangi Gajah (Budha).
Bila diselidiki lebih dalam suku Simalungun memiliki berbagai kepercayaan yang berhubungan dengan pemakaian mantera-mantera dari "Datu" (dukun) disertai persembahan kepada roh-roh nenek moyang yang selalu didahului panggilan kepada Tiga Dewa, yaitu Dewa di atas (dilambangkan dengan warna Putih), Dewa di tengah (dilambangkan dengan warna Merah), dan Dewa di bawah (dilambangkan dengan warna Hitam). 3 warna yang mewakili Dewa-Dewa tersebut (Putih, Merah dan Hitam) mendominasi berbagai ornamen suku Simalungun dari pakaian sampai hiasan rumahnya.
Sistem pemerintahan di Simalungun dipimpin oleh seorang Raja, sebelum pemberitaan Injil masuk Tuan Rajalah yang sangat berpengaruh. Orang Simalungun menganggap bahwa anak Raja itulah Tuhan dan Raja itu sendiri adalah Allah yang kelihatan.
Marga-Marga
Harungguan Bolon
Terdapat empat marga asli suku Simalungun yang populer dengan akronim SISADAPUR yaitu:
• Sinaga
• Saragih
• Damanik
• Purba


Keempat marga ini merupakan hasil dari “Harungguan Bolon” (permusyawaratan besar) antara 4 raja besar untuk tidak saling menyerang dan tidak saling bermusuhan (marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munssuh).

Keempat raja itu adalah
1. Raja Nagur bermarga Damanik
Damanik berarti Simada Manik (pemilik manik), dalam bahasa Simalungun, Manik berarti Tonduy, Sumangat, Tunggung, Halanigan (bersemangat, berkharisma, agung/terhormat, paling cerdas).
Raja ini berasal dari kaum bangsawan India Selatan dari Kerajaan Nagore. Pada abad ke-12, keturunan raja Nagur ini mendapat serangan dari Raja Rajendra Chola dari India, yang mengakibatkan terusirnya mereka dari Pamatang Nagur di daerah Pulau Pandan hingga terbagi menjadi 3 bagian sesuai dengan jumlah puteranya:

• Marah Silau (yang menurunkan Raja Manik Hasian, Raja Jumorlang, Raja Sipolha, Raja Siantar, Tuan Raja Sidamanik dan Tuan Raja Bandar)
• Soro Tilu (yang menurunkan marga raja Nagur di sekitar gunung Simbolon: Damanik Nagur, Bayu, Hajangan, Rih, Malayu, Rappogos, Usang, Rih, Simaringga, Sarasan, Sola)
• Timo Raya (yang menurunkan raja Bornou, Raja Ula dan keturunannya Damanik Tomok)
Selain itu datang marga keturunan Silau Raja, Ambarita Raja, Gurning Raja, Malau Raja, Limbong, Manik Raja yang berasal dari Pulau Samosir dan mengaku Damanik di Simalungun.

2. Raja Banua Sobou bermarga Saragih
Saragih dalam bahasa Simalungun berarti Simada Ragih, yang mana Ragih berarti atur, susun, tata, sehingga simada ragih berarti Pemilik aturan atau pengatur, penyusun atau pemegang undang-undang.

Keturunannya adalah:
• Saragih Garingging yang pernah merantau ke Ajinembah dan kembali ke Raya.
• Saragih Sumbayak keturunan Tuan Raya Tongah, Pamajuhi, dan Bona ni Gonrang.

Saragih Garingging kemudian pecah menjadi 2, yaitu:

o Dasalak, menjadi raja di Padang Badagei
o Dajawak, merantau ke Rakutbesi dan Tanah Karo dan menjadi marga Ginting Jawak

Walaupun jelas terlihat bahwa hanya ada 2 keturunan Raja Banua Sobou, pada zaman Tuan Rondahaim terdapat beberapa marga yang mengaku dirinya sebagai bagian dari Saragih (berafiliasi), yaitu: Turnip, Sidauruk, Simarmata, Sitanggang, Munthe, Sijabat, Sidabalok, Sidabukke, Simanihuruk.
Ada satu lagi marga yang mengaku sebagai bagian dari Saragih yaitu Pardalan Tapian, marga ini berasal dari daerah Samosir.




Rumah Bolon Raja Purba di Pematang Purba, Simalungun.

3. Raja Banua Purba bermarga Purba
Purba menurut bahasa berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Purwa yang berarti timur, gelagat masa datang, pegatur, pemegang Undang-undang, tenungan pengetahuan, cendekiawan/sarjana.

Keturunannya adalah: Tambak, Sigumonrong, Tua, Sidasuha (Sidadolog, Sidagambir). Kemudian ada lagi Purba Siborom Tanjung, Pakpak, Girsang, Tondang, Sihala, Raya.
Pada abad ke-18 ada beberapa marga Simamora dari Bakkara melalui Samosir untuk kemudian menetap di Haranggaol dan mengaku dirinya Purba. Purba keturunan Simamora ini kemudian menjadi Purba Manorsa dan tinggal di Tangga Batu dan Purbasaribu.

4. Raja Saniang Naga bermarga Sinaga atau Tanduk Banua (terletak di perbatasan Simalungun dengan tanah Karo)
Sinaga berarti Simada Naga, dimana Naga dalam mitologi dewa dikenal sebagai penebab Gempa dan Tanah Longsor.
Keturunannya adalah marga Sinaga di Kerajaan Tanah Jawa, Batangiou di Asahan.
Saat kerajaan Majapahit melakukan ekspansi di Sumatera pada abad ke-14, pasukan dari Jambi yang dipimpin Panglima Bungkuk melarikan diri ke kerajaan Batangiou dan mengaku bahwa dirinya adalah Sinaga.
Menurut Taralamsyah Saragih, nenek moyang mereka ini kemudian menjadi raja Tanoh Djawa dengan marga Sinaga Dadihoyong setelah ia mengalahkan Tuan Raya Si Tonggang marga Sinaga dari kerajaan Batangiou dalam suatu ritual adu sumpah (Sibijaon).Tideman, 1922
Beberapa Sumber mengatakan bahwa Sinaga keturunan raja Tanoh Djawa berasal dari India, salah satunya adalah menrurut Tuan Gindo Sinaga keturunan dari Tuan Djorlang Hatara.
Beberapa keluarga besar Partongah Raja Tanoh Djawa menghubungkannya dengan daerah Nagaland (Tanah Naga) di India Timur yang berbatasan dengan Myanmar yang memang memiliki banyak persamaan dengan adat kebiasaan, postur wajah dan anatomi tubuh serta bahasa dengan suku Simalungun dan Batak lainnya.
Marga-marga perbauran
Perbauran suku asli Simalungun dengan suku-suku di sekitarnya di Pulau Samosir, Silalahi, Karo, dan Pakpak menimbulkan marga-marga baru.
Marga-marga tersebut yaitu:
• Saragih: Sidauruk, Sidabalok, Siadari, Simarmata, Simanihuruk, Sidabutar, Munthe dan Sijabat
• Purba: Manorsa, Simamora, Sigulang Batu, Parhorbo, Sitorus dan Pantomhobon
• Damanik: Malau, Limbong, Sagala, Gurning dan Manikraja
• Sinaga: Sipayung, Sihaloho, Sinurat dan Sitopu

Selain itu ada juga marga-marga lain yang bukan marga Asli Simalungun tetapi kadang merasakan dirinya sebagai bagian dari suku Simalungun, seperti Lingga, Manurung, Butar-butar dan Sirait.
Zaman raja-raja Simalungun, orang yang tidak jelas garis keturunannya dari raja-raja disebut “jolma tuhe-tuhe” atau “silawar” (pendatang). Fenomena sosial ini diakibatkan adanya hukum marga yang keras di Simalungun menyatukan dirinya dengan marga raja-raja agar mendapat hak hidup di Simalungun.
Demikianlah sehingga makin bertambah banyak marga di Simalungun. Tetapi meski demikian sejak dahulu hanya ada empat marga pokok di Simalungun yakni Sisadapur : Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba.

Setelah raja-raja dikuasai Belanda sejak ditandatanganinya Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) tahun 1907 dan dihapuskannya kerajaan/feodalisme dalam aksi Revolusi Sosial tanggal 3 Maret 1946 sampai April 1947, peraturan tentang marga itu hapus di Simalungun. Masing-masing marga kembali lagi ke marga aslinya dan ke sukunya semula.

Penambahan Marga
Pada tahun 1930, Pdt. J. Wismar Saragih pernah menuliskan surat permohonan pada kumpulan Raja-Raja Simalungun yang berkumpul di Pematang Siantar yang meminta agar Raja-Raja tersebut menetapkan marga-marga baru sebagai tambahan kepada marga resmi Simalungun dengan maksud agar semakin banyak marga Simalungun seperti pada suku lain. Walaupun ide tersebut diterima oleh Raja-Raja tersebut namun permohonan J. Wismar Saragih belum disetujui karena belum tepat waktunya.
Karena alasan tersebut di atas, sebagian orang berpandangan bahwa masih ada kemungkinan bertambahnya Marga-marga di Simalungun. Hal ini senada dengan apa yang pernah dituliskan mengenai asal-usul beberapa Marga. Semisal Marga Saragih Garingging, yang disebut beberapa sumber berasal dari keturunan Pinangsori, dari Ajinembah (sebuah daerah di Kabupaten Karo) dan bermigrasi ke Raya sehingga bertemu dengan Raja Nagur dan dijadikan marga Saragih Garingging. Begitupun marga Purba Tambak, disebutkan berasal dari penduduk daerah Pagaruyung yang bermigrasi ke daerah Natal, kemudian ke Singkel, hingga tiba di daerah Tambak, Simalungun. Keturunannya kemudian menikah dengan keturunan Raja Nagur dan mereka dijadikan sebagai bagian dari Purba, yaitu Purba Tambak.Marga Damanik juga disebut sebagai pendatang yang menikah dengan keturunan Tuan Silampuyang yang bermarga Saragih dan kemudian diberi marga.

Perkerabatan Simalungun

Orang Simalungun tidak terlalu mementingkan soal silsilah karena penentu partuturan (perkerabatan) di Simalungun adalah hasusuran (tempat asal nenek moyang) dan tibalni parhundul (kedudukan/peran) dalam horja-horja adat (acara-acara adat). Hal ini bisa dilihat saat orang Simalungun bertemu, bukan langsung bertanya “aha marga ni ham?” (apa marga anda) tetapi “hunja do hasusuran ni ham (dari mana asal-usul anda)?"
Hal ini dipertegas oleh pepatah Simalungun “Sin Raya, sini Purba, sin Dolog, sini Panei. Na ija pe lang na mubah, asal ma marholong ni atei” (dari Raya, Purba, Dolog, Panei. Yang manapun tak berarti, asal penuh kasih). Sebagian sumber menuliskan bahwa hal tersebut disebabkan karena seluruh marga raja-raja Simalungun itu diikat oleh persekutuan adat yang erat oleh karena konsep perkawinan antara raja dengan “puang bolon” (permaisuri) yang adalah puteri raja tetangganya. Seperti raja Tanoh Djawa dengan puang bolon dari Kerajaan Siantar (Damanik), raja Siantar yang puang bolonnya dari Partuanan Silappuyang, Raja Panei dari Putri Raja Siantar, Raja Silau dari Putri Raja Raya, Raja Purba dari Putri Raja Siantar dan Silimakuta dari Putri Raja Raya atau Tongging.

Adapun Perkerabatan dalam masyarakat Simalungun disebut sebagai partuturan. Partuturan ini menetukan dekat atau jauhnya hubungan kekeluargaan (pardihadihaon), dan dibagi kedalam beberapa kategori sebagai berikut:
• Tutur Manorus / Langsung
Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri.
• Tutur Holmouan / Kelompok
Melalui tutur Holmouan ini bisa terlihat bagaimana berjalannya adat Simalungun
• Tutur Natipak / Kehormatan
Tutur Natipak digunakan sebagai pengganti nama dari orang yang diajak berbicara sebagai tanda hormat.

Pakaian Adat




Kain Adat Simalungun disebut Hiou. Penutup kepala lelaki disebut Gotong, penutup kepala wanita disebut Bulang, sedangkan yang kain yang disandang ataupun kain samping disebut Suri-suri.
Sama seperti suku-suku lain di sekitarnya, pakaian adat suku Simalungun tidak terlepas dari penggunaan kain Ulos (disebut Uis di suku Karo). Kekhasan pada suku Simalungun adalah pada kain khas serupa Ulos yang disebut Hiou dengan berbagai ornamennya. Ulos pada mulanya identik dengan ajimat, dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak, memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar, Muangthai dan Laos, khususnya pada ikat kepala, kain dan ulosnya.
Secara legenda ulos dianggap sebagai salah satu dari 3 sumber kehangatan bagi manusia (selain Api dan Matahari), namun dipandang sebagai sumber kehangatan yang paling nyaman karena bisa digunakan kapan saja (tidak seperti matahari, dan tidak dapat membakar (seperti api). Seperti suku lain di rumpun Batak, Simalungun memiliki kebiasaan "mambere hiou" (memberikan ulos) yang salah satunya melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima ulos.
Ulos dapat dikenakan dalam berbagai bentuk, sebagai kain penutup kepala, penutup badan bagian bawah, penutup badan bagian atas, penutup punggung dan lain-lain. Ulos dalam berbagai bentuk dan corak/motif memiliki nama dan jenis yang berbeda-beda, misalnya ulos penutup kepala wanita disebut suri-suri, ulos penutup badan bagian bawah bagi wanita disebut ragipane, atau yang digunakan sebagai pakaian sehari-hari yang disebut jabit. Ulos dalam pakaian penganti Simalungun juga melambangkan kekerabatan Simalungun yang disebut tolu sahundulan, yang terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (abit).
Menurut Muhar Omtatok, Budayawan Simalungun, awalnya Gotong (Penutup Kepala Pria Simalungun) berbentuk destar dari bahan kain gelap ( Berwarna putih untuk upacara kemalangan, disebut Gotong Porsa), namun kemudian Tuan Bandaralam Purba Tambak dari Dolog Silou juga menggemari trend penutup kepala ala melayu berbentuk tengkuluk dari bahan batik, dari kegemaran pemegang Pustaha Bandar Hanopan inilah, kemudian Orang Simalungun dewasa ini suka memakai Gotong berbentuk Tengkuluk Batik.

Catatan
1. Herman Purba Tambak, SIB 3 September 2006, hlm. 9
2. Pdt Juandaha Raya P Dasuha, STh, SIB, "Perekat Identitas Sosial Budaya Simalungun" 22 Oktober 2006
3. The Simalungun Protestant Church in Indonesia, a brief history, Kolportase GKPS, Pematang Siantar, 1983, hlm. 6
4. Pdt Juandaha Raya P Dasuha, STh, SIB(Perekat Identitas Sosial Budaya Simalungun) 22 Oktober 2006
5. Taralamsyah Garingging, Garingging
6. TBA Purba Tambak, Sejarah Simalungun
7. Jaumbang Garingging, Palar Girsang, Adat Simalungun, Medan, 1975
8. Biranul Anas / Jonny Purba, Busana Tradisional Batak, Taman Mini Indonesia Indah


Dikutip dari : Wikipedia Indonesia

Jumat, 08 Agustus 2008

Männer lieben langes Haar "Lelaki Lebih Suka Rambut Panjang"

Männer finden lange Haare bei Frauen meist viel attracktiver als einen Kurzhaarschinitt. Das ergab eine Umfrage der Frauenzeitschrift Laura.
Demnach wünschen sich 65 prozent der Männer eine lange Mähne beim weiblichen Geschlecht. Auch Locken sind bei den Herren sehr beliebt.
Männerwünsche hin oder her-viele Frauen fühlen sich mit längeren Haaren einfach wohler, weil es zu ihrem Typ passt und mehr Möglichkeiten für das Styling bietet. Mit feinem Haar ist es aber oft nicht leicht,sich den Traum von der wallenden Mähne zu erfühlen.
Mitunter erinnert das Ergebnis eher an eine dünne,ausgefranste '' Mäusematte''. Manche Haare wollen auch nicht so recht wachsen und brechen ab Schulternlänge regelmassig ab.
Wer unter derartigen Problemen leidet, kann sich heutszutage mit Extensions behelfen. Haarverdichtung und -verlängerung zaubern zusätzliches Volumen und mehr Länge ins Haar. Dabei kommt es besonders auf die Qualität der Extensions und die professionelle Anbringung an. Nur hochwertiges, handselektiertes Echthaar garantiert erstklassige Ergebnisse und einen natürlichen Look.




Para lelaki pada umunnya menganggap bahwa wanita yang memiliki rambut panjang lebih attraktiv dibandingkan dengan wanita yang berambut pendek.Hasil peninjauan ini di bahasa didalam sebuah rubrik wanita "Laura". Dan terbukti bahwa 65%, lelaki suka pasangannya berambut panjang. Bukan hanya itu saja, mereka juga sangat menyukai yang berambut keriting dan berombak.
Kebanyakan pria mendapatkan perasaan yang tenang dengan kekasihnya, karena itu sangat pas dengan mereka dan dapat menstyling (menggaya) rambut mereka dengan sesuka hati. Dengan rambut yang sedikit atau pendek, tidak memungkinkan bagi mereka dan itu tidaklah gampang.Bukan hanya itu saja, terkadang ada juga rambut yang tidak sanggup panjang atau menggugurkan rambutnya, dan itu sangatlah tidak memuaskan si pemilik sehingga pemilik rambut memotong rambutnya sebatas bahu.
Namun jaman sekarang ini sudah berbeda, mereka bisa dibantu oleh para disigner rambut. Mempertebal rambut, memeperpanjang, mendesign bahkan banyak hal lainnya yang menungkinkan. Ini harus didukung dengan Qualitas produknya dan dengan daya profesionalismenya. Dengan demikian mereka akan memiliki rambut yang mempesona dan mengkilau.

Bagaimana dengan saudara? Apakah anda menyenangi kekasih anda berambut panjang, indah mempesona tanpa pergi ke salon? Atau berambut panjang tetapi cangkokan (huahahaha,,,,wkwkw) Atau anda sendiri menyenangi rambut yang sudah anda punya sekarang?

Saran, komentar dan kritik di harapakan.

Thanks for all

Kamis, 26 Juni 2008

Demonstrasi di Augsburg


Kemarin tepatnya hari selasa (24-06-2008), diadakan demonstrasi oleh mahasiswa-mahasiswa Universitas Augsburg. Para mahasiswa mendemonstrasikan dan menentang dengan adanya Studiengebühren (Uang kuliah), yang mana biaya nya €500, ditambah dengan biaya Immatrikulation sebanyak €150 secara keseluruhan berjumlah €650. Ini sangat tidak menguntungkan bagi mahasiswa. Ditambah lagi Studiengebühren itu hanya berlaku di Bayern secara keseluruhan tetapi bagi daerah Jerman lainnya tidak dibebankan Studiengebühren. Ini juga sangat membuat kecemburuan sosial bagi mahasiswa di Jerman.

Dengan keadaan dan situasi politik yang tidak menguntungkan tersebut, memungkin banyak nya keuntungan bagi beberapa daerah. Dalam dunia politik di Jerman hanya memungkinkan dan memberlakukan politik daerahnya masing-masing. Setiap daerah bagian Jerman memiliki kekuatan politik tersendiri. Contohnya dimana saya bertempat, Augsburg (Bayern). Di Bayern ini politik yang berkuasa adalah CSU,yang mana CSU memiliki kekuatan didaerah ini dalam memajukan daerah yang dipimpinnya. Sedangkan daerah lain, contohnya Leipzig atau daerah bekas Hitler, dikuasai oleh Linken . Dan di Berlin diduduki oleh partei SPD,dimana Angela Merkel menjadi Presiden dari Jerman itu sendiri. Dengan adanya situasi politik yang demikian, maka aspirasi dari masyarakat di adukan kepada tiap-tiap pemerintah daerahnya masing-masing.

Demikian halnya di Augsburg ini. Kemarin mahasiswa mengajukan ujuk rasa dalam penentangan diadakannya Studiengebühren (saya juga ikut berpartisipasi,hehehe..). Mahasiswa memintah kepada pemerintah daerah untuk menindak lanjutin masalah tersebut. Terlebih lagi Die Lebenshaltungskosten (biaya hidup) di Jerman ini sangat tinggi. Die Lebenshaltungskosten itu termasuk juga asuransi jiwa, biaya Apartemen, listrik, air, pajak daerah, pajak kerja, pajak sampah, dll). Yang mana untuk semua itu mahasiswa harus bekerja dalam memenuhi biaya hidupnya. Dengan keadaan tersebut memungkinkan mahasiswa tidak konsentrasi dalam mengikutin pelajaran.

Keadaan dan situasi demikian, diharapkan pemerintah untuk segera menindak lanjutin dan memungkinkan untuk menghapus Studiengebühren tersebut.

Yang membuat saya tertarik lagi, pihak kepolisin begitu banyak dalam Demonstrasi itu. Saya kira mereka (polisi2) akan membubarkan demonstrasi dan memporakporandakan Demons tersebut, namun sungguh membuat aku kagum. Mereka hanya datang untuk menstabilkan keadaan, mereka menjaga ketenang dan tidak mengganggu demonstrasi, mereka juga yang mengatur lalulintas dimana mahasiswa berarak-arak di sekitar kota dari Rathhaus - Stadwerke Augsburg - Mozart Haus dan berakhir di Theater Augsburg. Polisi menutup lalulintas dan memperlebar jalan bagi pendemonstrasi.

Sungguh berbeda dengan keadaan di Indonesia,yang mana polisi biasanya membubarkan pendemonstrasi, menangkap mahasiswa scr diam2 dan banyak hal lainnya. Saya tidak tahu siapa yang salah, apakah mahasiswanya atau polisinya. Namun saya sungguh kagum dengan keadaan dan situasi politik di Jerman ini.

Senin, 23 Juni 2008

KEKUATAN UNTUK BERTAHAN


Tanpa memandang situasi Anda saat ini , ketahuilah bahwa Tuhan menyediakan bakat yang melimpah bagi kita semua. Ia sedang bekerja dalam hidup anda saat ini dengan penuh kuasa, jadi jangan berhenti berdoa. Saat Anda merasa hampa, anda akan menemukan kepenuhanNya. Saat anda sedih, anda akan menemukan sukacitaNya. Dan saat Anda berada di tengah badai yang mengamuk, anda akan menemukan perlindungan dan pemeliharaanNya.


Saat anda kecewa mintalah, mintalah agar Tuhan membantu anda untuk memahami kebenaranNya yang berkenan dengan apa yang sedang anda alami. Tetapi rendah hati, tunduk, penuh iman dan harapan dan anda akan menyaksikan kebaikan Tuhan di tengah semua yang sedang terjadi. Ingat bahwa betapapun gelap situasi anda, DIA adalah terang dalam hidup Anda dan terangNya itu tidak dapat dipadamkan oleh apapun.


Jangan abaikan DIA di tengah-tenagh penderitaan Anda, mendekatlah kepadaNYa dan izinkan DIA memulihkan dan memurnikan Anda serta membuat Anda semakin mengenal DIA.

Minggu, 22 Juni 2008

Boanonku Do Ho

Sian dia do mulai on ku,,
Lao mandok tu ho holong ni roha,,
Horas ma ito horas hasian,,

Nunga tung leleng marsitandaan,,
Dang adong dope lao si ingotonNunga tung leleng,,
Ro do au ito , ro do au tu ho,,

Molo dung hon saut hita mardongan,,
Naeng ma tong tong nian marsihaholongan,,
Unang ma di paralang-alangan,,
Asa unang gabe sihataon,,

Haholongonku do ho,,
Saleleng au mangolu,,
nang ro di na lao mate pe,,

Haholongan ku do ho,,
Saleleng au mangolu,,
,,

Ingoton ku do ho
Ingoton ku do ho
Ingoton ku do ho
Ingoton ku do ho

Boanon ku do ho
Boanon ku do ho
Boanon ku do ho

Minggu, 27 April 2008

KesetiaanNya


Saat kau diam, aku masih tetap disini
Menantimu berbicara ,
Saat kau menangis, aku masih tetap disini
Menghiburmu dalam tangismu ,
Saat kau bergembira, aku masih tetap disini ,
Walaupun kau pergi bersama yang lain

Saat kau pergi, aku masih tetap disini ,
Menanti dari hari ke hari
Saat kau menolak, aku masih tetap disini ,
Menantimu dengan senyuman
Aku akan selalu disini, menantimu dan terus menantimu ,
Takkan ada yang bisa menghalangiku untuk tetap menunggumu .
Cinta dan Kasih yang kumiliki semuanya untukmu
Apapun adanya dirimu, aku akan selalu setia
Karena engkau adalah Anakku ,
Anak yang kukasihi
Aku mencintamu Anakku